Senin, 01 Oktober 2018

My (Quite Short) IVF Journey

Tadinya aku sudah menuliskan petualangan IVF-ku dalam 13 tulisan pendek berseri. Sepanjang tiga minggu ini, aku membuat banyak catatan, tidak hanya proses IVF tetapi juga banyak hal baik lain yang aku jumpai dalam petualangan ini. Namun tiga hari lalu, semua postingan aku kembalikan ke format draft. Tepatnya setelah pagi itu aku menerima telefon dari embryologist di Thomson Hospital yang menangani biopsi enam embrio kami.

Enam embrio untuk aku yang berusia 40 tahun adalah kabar baik. Dari flyer yang kudapat dari rumah sakit, umumnya perempuan berusia 40 tahun akan mendapatkan 2 embrio pada tahap blastosis (setelah hari ke-5) untuk kemudian dibiopsi. Dari 11 telurku yang diambil, 10 yang dianggap mature. Tujuh berhasil dikawinkan, dan enam yang bertahan hinga tahap blastosis. Sampai di titik ini, aku merasa boleh berharap banyak.


Tapi pagi itu, embryologist menyampaikan hal yang sama sekali tidak kuharapkan. Aku lupa bagaimana ia menyampaikan, tetapi aku memahami bahwa tak satupun dari enam embrio memiliki kromosom yang normal untuk kami dapat melanjutkan tahap IVF berikutnya.

Lalu sudah.

Cukup sampai di sini rupanya. Petualangan IVF-ku dicukupkan sampai di sini. Dan tiga minggu yang penuh pengalaman baru dengan emosi yang naik turun, tiba-tiba terasa seperti mimpi.


Aku bersyukur bahwa kami sudah melakukannya dengan seluruh daya dan upaya. Aku tahu aku telah membuat keputusan terbaik semenjak memilih dokter dan rumah sakit di Damansara, Malaysia dan melakukan PGT (Preimplantation Genetic Test) sambil jungkir balik menghitung biaya yang tidak kami perkirakan sebelumnya.

Keputusan ini terbilang nekat, dan nekat sama sekali bukan kebiasaanku yang penuh perencanaan. Nekat berangkat ke Kuala Lumpur dan memutuskan memulai pada siklus ini juga dengan anggaran yang mepet hanya untuk IVF biasa, lalu tiba-tiba memutuskan PGT. Ini adalah tiga minggu yang paling menegangkan dalam hidupku.

Sekarang aku hanya bingung. Bingung menyikapinya. Kadang sedih dan menangis, tapi rasanya seperti menangisi sesuatu yang belum aku punya. Kehilangan sesuatu yang belum ada. Kadang merasa baik-baik saja, life must go on. Tapi I am not that okay.


Aku tahu aku akan kuat. Kami kuat. Kami masih bersemangat kalau memang ada yang bisa kami lakukan. Kalau kami punya kesempatan untuk melakukannya lagi bahkan sampai tujuh kali, besar kemungkinan kami akan hadapi dengan gagah berani.

Tapi hari-hari ini, rasanya seperti ada satu titik yang aku tidak bisa kendalikan pada saat-saat tertentu, ada satu rasa yang tidak bisa aku definisikan. Satu hal yang membuatku merasa lebih baik, adalah mengetahui bahwa kami sudah berusaha sampai batas kemampuan kami. Sisanya adalah memang kuasa Allah.


***

Future will always provide good news!* - Salsa and Pascal

*Ini kalimat penghiburan terbaik yang ingin aku ingat. Salsa dan Pascal adalah pemilik rumah Airbnb yang kami tinggali di Damansara. Satu minggu kami di sana dan merasa seperti di rumah sendiri. Mereka sangat supportive (sebetulnya tidak hanya kepadaku, tetapi juga ke tamu-tamu yang lain) dan telah menjanjikan akan memberikan kamarnya free of charge tanpa melalui aplikasi jika nanti aku kembali untuk tahapan IVF selanjutnya, yang... ternyata tidak jadi.  

Ditambahkan pada 5 Oktober 2020:

...
Hush now my angel
I will always be with you
In your pretty smile
In a glow of tears
Out across the frosty night
I'll be there with you
Maybe you'll always breath in me
Ever in my heart
All the little pieces of you
Look how they shine above

(Hush, Lasse Lindh)

Sabtu, 17 Februari 2018

Membaca Padma

Sudah lama sekali, aku begitu selektif membaca terutama novel, selain memang waktu membaca jauh berkurang. Aku lebih memilih bacaan untuk kebutuhan pekerjaan saja. Itupun seringnya tidak habis satu buku, hanya baca bagian-bagian yang diinginkan dari beberapa buku. Novel yang aku baca dalam lima tahun terakhir kalau tidak salah hanya serial Supernova. Itu juga karena sudah kadung baca sejak seri pertamanya dulu, masih zaman kuliah.

Tapi kalau adikku sendiri yang menulis novel, sebagai kakak yang baik tentu aku harus membaca dan menuliskannya, agar kalau di-google bisa muncul namanya. Apalagi novelnya belum juga dicetak, masih hanya terbit dalam edisi e-book.


Mimpi Padma. Penerbit mengategorikannya sebagai "dark lit". Entah apa yang dimaksud dengan "dark" ini. Mungkin untuk mengesankan misterius. Well, novel ini memang berisi petualangan yang penuh misteri, tetapi bukan cerita horor yang menyeramkan. Justru kisah cinta yang melampaui ruang dan waktu. Bersiaplah.

Adikku beruntung. Ia yang lebih muda satu dekade, bertumbuh di zaman kreativitas menulis tidak sulit mendapatkan tempat di ruang-ruang formal. Ada satu masa beberapa tahun lalu, toko buku penuh dengan kisah-kisah romantika berbungkus "chick lit" dan banyak di antaranya adalah debutan karya penulis-penulis muda. Bisa jadi, pembaca yang juga seusia, merasa lebih dekat dengan penulis. Apalagi kisah yang diceritakan tidak jauh-jauh dari pengalaman usia mereka, seputar cinta dan persahabatan. Tolong koreksi kalau aku salah, karena aku bukan pembaca chick lit.

Sementara aku, di usia remaja hanya mengenal beberapa saja nama yang karyanya dipajang di toko buku. Mereka semacam Hilman, Zara Zetira, Gola Gong dan Bubin Lantang. Tidak ada yang lain. Menjelang kuliah, aku membaca sastra yang dipikir-pikir ceritanya memang berat dan rumit. Bukan berarti aku sombong dan mengklaim bacaanku lebih berat dari bacaan adikku, karena ia juga membaca buku-buku sastra. Ia membaca mungkin lebih banyak dan lebih beragam dari aku yang hidupnya sudah mulai 10 tahun lebih dahulu. Tapi maksudku menuliskan ini, bahwa adikku punya pengalaman membaca yang banyak dan beragam, dari yang ringan-ringan sampai yang berat dan butuh mikir. Itu kenapa "Mimpi Padma" menurutku bukan sekadar varian dark dari chicklit yang menjamur, bukan semacam varian dark cokelat Silverqueen (eh, masih ada ngga, sih?). Meskipun harus kuakui, penokohannya mengingatkan aku pada beberapa serial drama Korea. Yeah, selain buku-buku, adikku tumbuh bersama serial Asia, mulai dari Jerry Yan, Takuya Kimura, sampai Lee Min Ho (mohon maaf, aku tidak hafal nama aktor perempuannya. Hehe...), dan kesukaannya itu masih berlanjut hingga kini.

Satu-satunya yang membuat ini terasa seperti Silverqueen yang ringan dan manis adalah karakter tokoh-tokoh utama yang mengingatkanku pada serial drama Asia: perempuan selengean dan cuek berhadapan dengan tokoh laki-laki yang digambarkan tampan memesona. Untung saja karakter perempuan tidak digambarkan miskin. Kalau iya, telenovela itu artinya... Tapi aku juga melihat idealisasi penampilan adikku di tokoh Padma: parka hijau, ransel, running shoes, dan arkeologi. That's her. Meskipun aku curiga juga bahwa penampilannya banyak dipengaruhi drama Korea.

Di luar itu, aku menikmati membaca novel ini. Bahasanya mengalir, penggambaran yang detail, serta cerita yang terjalin sangat baik dan teliti. Membaca keseluruhan novel ini, tidak terasa seperti makan Silverqueen. Mungkin semacam Hershey's varian dark. Manisnya tidak berlebih, bikin gembira, tapi juga terasa berbobot coklatnya. Kurasa karena arkeologi-nya yang bukan sekadar tempelan pada tokoh Padma, tetapi membaur dalam cerita. Data arkeologisnya terdeskripsi secara detail. Tentu saja karena penulisnya adalah arkeolog. Dan ia berhasil menggunakannya untuk memperkuat cerita.

Selanjutnya aku berharap Cadbury Old Gold.

Senin, 01 Januari 2018

syukur

Belum selesai menghitung segala kebaikan di tahun 2017, tahu-tahu sudah 2018. Ini gara-gara rencana menulis melow di malam tahun baru tergantikan tidur nyenyak menemani migrain, yang entah kenapa.

Tahun 2017 patut disyukuri atas semua hal-hal baik yang menggembirakan, dan hal-hal (yang saat itu mungkin) kurang baik yang mendewasakan. Tahun ini aku masih banyak melakukan perjalanan, dan kebanyakan perjalanan itu aku bersama Dodi: Jember, Jogja dua kali, Taipei-Toronto, dan 'pulang' ke rimba September kemarin. Yang harus di-highlight adalah perjalanan dengan Mama ke Singapore. Sekalipun rencana sedikit berubah, tapi aku yakin kami berdua sama-sama menikmati perjalanan ini dan sama-sama mengenal lebih dekat setelah sekitar 14 tahun tidak serumah lagi. Aku ingin mengulangnya lagi kalau ada rejeki dan kesempatan. 

Sokola masih awesome tahun ini, sekalipun berjalan seperti roller coaster. Kadang happy dengan adrenalin yang bergejolak, kadang kalang kabut menghitung saldo, dikejar deadline, dan memikirkan masa depannya :D Tapi yang terbaik, aku bekerja dengan suami dan sahabat-sahabat yang seperti keluarga. I could not ask for more.

Beberapa hal yang membuatku sedih, tentu tidak akan aku tulis di sini. Tetapi sebagaimana biasanya, dalam keadaan yang tidak menyenangkan pun aku masih dikelilingi hal-hal terbaik, yang menjadikan energi untuk tetap berpikir positif. Lagi pula, aku tidak banyak mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan. 

Tahun 2018 tentu diawali dengan banyak doa dan harapan baik. Aku punya doa khusus yang kubisikkan siang dan malam. Tetapi begitulah semesta ini bekerja, semakin kita menginginkan sesuatu semakin kita harus berserah pada kuasa-Nya. 

Apapun nanti, terima kasih Allah, atas semua kebaikan yang menyertai (hampir) 40 tahun perjalanan hidupku. Atas orang-orang baik di sekelilingku, atas semua kemudahan di hidupku, atas semua petualangku, atas pertemuan dan setiap detik waktuku dengan Dodi, atas pekerjaan awesome, atas kerikil-kerikil yang kemudian mendewasakanku. Alhamdulillah. 




Senin, 25 Desember 2017

Red Blanket

Duh, ini sudah lama sekali. Kado untuk anaknya Lilly, Ikay, setelah masa penantian panjang. Sekarang anaknya udah mau umur dua tahun. Hehehe...

Simple quilt. Kanvas impor yang aku beli setengah meter saja berjodoh dengan kain strip merah. Dibaliknya pakai flanel kotak-kotak, juga merah. Senang sekali kalau kain-kain yang dibeli terpisah bisa menemukan jodonya...





Rabu, 25 Januari 2017

self potrait

Waktu kecil, diajak jalan-jalan ke Pasar Seni Ancol dan ngeliat banyak orang bikin siluet kepala seperti ini. Biasanya siluet kepala dibuat dari kertas hitam yang dibentuk lalu dipigura dengan dasar warna putih. Dulu penasaran banget gimana cara bikinnya, kok bisa mirip dengan orang aslinya. 

Teringat lagi dengan penasaran ini saat buka-buka pinterest dan menemukan banyak improvisasi dari siluet kepala. Langsung deh, penasaran untuk bikin. Apalagi sekarang teknologi sudah sangat memudahkan. 

Pertama, bikin foto dari samping. Aku pakai kamera yang nyambung ke HP sebagai remote control-nya. Jadi ngga terlalu susah untuk ngepasin posisi. Kalau pakai kamera HP juga bisa, tinggal pakai timer. 


Lalu, pindahin fotonya ke laptop. Nah, layar laptop kan cukup terang jadi bisa pakai kerta HVS di atas monitor laptop dan trace siluet kepala di situ. Pakai pensil 2B dan jangan terlalu kuat nekennya, sayang laptopnya. Hehehe...

Maka jadilah pola siluet kepala. Tinggal digunting mengikuti garis. 


Pola ini bisa langsung jadi siluet. Tapi karena aku mau bikin sulaman siluet, jadi pola ini yang aku blat lagi ke kain untuk disulam. 



Kebetulan ada pigura bekas kenang-kenangan pas jadi pembicara. Karena piguranya lebar, ya jadi cari ide untuk menuhin gambarnya. 

Jumat, 20 Januari 2017

selamat ulang tahun

Hari ini ulang tahun yang istimewa, karena aku melewatinya di Jember, di salah satu lokasi sekolah kami. Dusun Sumbercandik letaknya di kaki Argopuro yang berjarak hanya sekitar 19 km dari kota Jember. Kami mendapati angka buta huruf yang cukup tinggi sebelum akhirnya membuka sekolah di sini.


Sepanjang ingatanku, aku belum pernah merayakan ulang tahun di lokasi sekolah kami. Bahkan tidak juga di rimba yang sudah menjadi rumah keduaku dalam 14 tahun terakhir ini. Sebetulnya hari ini biasa-biasa saja. Mendung dari pagi dan akhirnya hujan pada siang harinya. Kami menikmati sarapan pisang goreng dan kopi hasil kebun petani di sini. Udara dingin dan tidak ada perayaan berlebihan. 



Tapi aku merasa istimewa. Sekolah-sekolah kami adalah pencapaian istimewa dalam hidupku. Ulang tahunku atau bukan, aku tetap merasa istimewa. Hanya saja, karena ini hari ulang tahunku, aku bisa menulis sambil agak mellow. 


Tak berhenti bersyukur atas berkah tak berkesudahan sampai hari ini. Atas kesempatan menjadi apa yang aku inginkan, atas proses panjang dan berbagai sandungan yang tak jarang mengecilkan hati, dan atas semua kebaikan yang menyertainya. 


Terima kasih, Tuhan!

Jumat, 02 Desember 2016

Weekend Sewing: Camera Pouch


Menjahit camera pouch ini untuk Dodi beberapa weekend lalu. Di luar dugaan, tidak butuh waktu lama untuk menjahitnya. Idenya sudah lama ada di kepala, apalagi sejak punya kain camo yang kubeli saat libur lebaran lalu di Jogja. Kain camo-nya asik. Motifnya ngga pasaran.

Seperti biasa, eksekusinya tanpa pola. Agal meleset dari rencana. Mestinya bagian atas disisakan lebih panjang agar bisa lebih rapat terlipat. Bagian dalam aku kasih kain parasut, maksudnya supaya bisa menahan air kalau (jangan sampai, sih) misalnya kehujanan atau harus kena cipratan. Tapi aku ngga pengalaman jahit kain parasut, jadinya agak meletot. Hehehe... Selain itu, rupanya juga kurang panjang, sehingga dalamannya sedikit menggantung. Rencananya sih mau direvisi nanti.

Aku juga memikirkan metode penutupnya sambil menjahit hingga akhirnya memutuskan pakai model tali ini. Mestinya pakai besi D, tapi karena besi D di rumah ukurannya lebih kecil dari tali webbing yang kupakai, jadinya pakai besi yang biasa untuk tali tas jadinya suka lepas sendiri. Mudah-mudahan sempat segera ke Mayestik untuk beli besi D yang sesuai ukurannya.

Mudah-mudahan juga, sempat dan bersemangat untuk menjahit beberapa lagi ;-

Marie and Me


Aku menyelesaikan buku Marie Kondo "The Life-Changing Magic of Tidying Up" dalam penerbangan Jakarta-Jogja dan buru-buru ingin menuliskannya agar tidak lupa. Bukunya sendiri langsung aku berikan ke Karin, sebagai hadiah persiapan menikah :D. Tapi kalau kamu membaca buku ini, tentu kamu memahami hubungan antara kakak dan adik perempuan, dan kenapa aku sering memberikan barang-barang ke adik perempuanku satu-satunya ini. Karena itu, saat membaca pengalaman Marie yang dituliskan dalam buku ini, aku juga sedikit merasa bersalah.

Lebih dari pengalaman hubungan kakak dan adik perempuan, ada cerita pengalaman Marie lainnya yang aku merasa pernah juga mengalamainya, memikirkan hal yang sama, meskipun aku tidak lantas se-obsesif dia saat eksekusi beres-beres. Tapi aku mengalami beberapa hal yang mirip misalnya dulu saat beberes rumah Jogja, aku kadang membuang beberapa barang milik kakak atau adikku tanpa ijin atau minimal aku bereskan dan tersembunyi di suatu tempat. Setiap akhir tahun ajaran, aku punya ritual membereskan kamar termasuk buku-buku yang sudah tidak terpakai lagi. Aku juga mengalami membereskan kamar saat besoknya mau ujian. 

Ketika akan pindah ke Jambi, satu hal yang ingin kupastikan adalah membereskan lemari-lemari di rumah yang penuh dan tidak jarang berdebu. Aku tahu benar rasa lega setelah bisa membuang/menyingkirkan barang-barang yang teronggok tidak berguna di rumah, sampai sekarang. Aku selalu berpikir bagaimana caranya memaksimalkan ruang-ruang di rumah, ruang-ruang penyimpanan, agar tidak ada yang mubazir. Rasanya aku juga cukup sering memilah barang yang masih dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, dan putus asa kalau barang yang tidak dibutuhkan itu masih tersimpan di rumah. Kecuali tentu barang-barang kenangan atau koleksi yang tidak sedikit juga. Tapi, hey, siapa yang tidak membutuhkan kenangan dan kesenangan mengoleksi?

Aku juga memikirkan lendir di tempat sabun di kamar mandi atau di tempat penyimpanan sabun dan spon cuci piring, meskipun mempunyai solusi yang berbeda dengan Marie. Pada akhirnya aku menciptakan trik-trik mengelola rumah agar 'easy to maintain' karena aku (dan Dodi) mengerjakan semua sendiri. Karena itu aku setuju pendapatnya bahwa menyimpan barang-barang, intinya bukan agar kita mudah untuk mengambilnya, melainkan agar kita mudah membereskannya. Terakhir, aku juga selalu menyapa rumah seperti yang dilakukan Marie.

Seperti Marie, aku juga anak nomor dua di antara kakak dan adik, yang biasanya memiliki 'dunia' sendiri dan mandiri. Aku juga membaca banyak buku arsitektur dan interior sejak kecil karena Bapak. Kalau akhirnya aku tidak se-obsesif Marie, mungkin karena aku punya passion selain beres-beres. Tapi besar kemungkinan karena aku pemalas luar biasa. Hehehe...

Sebagai sebuah buku, aku memikmati proses membacanya. Seperti membaca novel yang mencerahkan. Aku merasa mendapat pengetahuan baru dan tidak sabar ingin segera menyelesaikan lembar demi lembar lalu melihat sekeliling rumah untuk melihat apa yang perlu dibereskan. Padahal, aku sempat ragu-ragu waktu akan membelinya walaupun sebelumnya sudah cukup banyak browsing dan membaca ulasan tentang buku ini, juga metode Konmari. Suatu hari, aku sudah sampai di depan Gramedia tapi ngga jadi masuk dan membeli buku ini. Waktu itu aku berpikir, masa beres-beres aja perlu diajarin (dan ini dijawab oleh Marie di bukunya). Selain itu juga khawatir buku ini sejenis buku tips yang laris-manis dijual bukan karena memang bermanfaat tapi karena pembeli yang mengira persoalannya selesai setelah membaca bukunya. Ulasan terakhir yang kubaca, tulisan Dewi Lestari yang membuatku bertekad ke toko buku besoknya untuk beli buku ini. 

Secara praktikal, aku merasa buku ini melengkapi diriku, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membuatku penasaran, dan mengkonfirmasi beberapa keputusan yang kuambil saat membereskan rumah, sekaligus menohokku dengan paparan 'dosa-dosa' selama ini yang bikin rumah berantakan. Seharusnya, setelah membaca buku ini, aku bisa lebih baik dalam membereskan rumah. Seharusnya. Membereskan ya, bukan bersih-bersih. Itu dua hal yang berbeda. 

Lebih dari persoalan lipat-melipat pakaian dan membuang yang tidak membuat gembira, aku senang karena Marie mengingatkan kita tentang banyaknya barang yang tidak berguna yang bertumpuk di rumah, - kebanyakan akibat dari nafsu konsumsi kita. Dia mengajarkan kita untuk menghargai benda-benda dan menyayanginya karena jasanya kepada kita selama kita pakai. Dan yang paling menohok, dia menyarankan untuk tidak gegabah membeli produk-produk penyimpanan barang di saat aku berpikir untuk membeli beberapa lemari. Buat apa membeli lemari kalau hanya untuk menyembunyikan barang-barang yang sebetulnya tidak kita gunakan, atau dalam bahasa Marie tidak membuat gembira. Lemari itu, seperti halnya barang-barang, hanya akan membuat rumah lebih penuh. Dan lemari, sekali membeli akan susah untuk dibuang. 

Aku tidak tahu, perasaan gembira saat membaca buku ini akan terjadi pada semua orang atau hanya orang-orang yang punya penasaran berlebih untuk beberes rumah saja. Tapi sungguh, aku setuju Dewi Lestari bahwa buku ini akan mengubah cara pandang kita terhadap barang-barang yang kita miliki. Aku sendiri tidak janji akan menerapkan seutuhnya metode Konmari di rumah, tapi aku tahu aku sudah menemukan beberapa jawaban untuk membereskan rumah. Jawaban itu bukan sekadar teknis cara kita membereskan rumah, tetapi lebih dari itu adalah cara pandang kita terhadap beberes dan terhadap barang-barang di rumah.

Dan akhir kata, kalau aku boleh punya permintaan, aku ingin Karin ikut kursus beberesnya Marie Kondo! Serius. 

Minggu, 13 November 2016

Rinjani.

"Setidaknya satu kali dalam hidupku, aku pernah naik gunung."

Begitu aku berkata dalam hati, sejak awal perjalanan, setiap kali ngos-ngosan mendaki, bahkan menjelang sampai ke puncak Plawangan di ketinggian 2.400 mdpl. Sungguh tidak pernah terbayang kalau aku akhirnya mendaki gunung pertamaku di usia 38 tahun, - dengan uban dan kerut sekitar mata, dengkul berbunyi dan sakit pinggang. Mendaki ya, maksudnya jalan menuju puncak. Kalau ke gunung saja, mungkin ke Bromo atau Kelimutu bisa masuk hitungan.



Meskipun biasa ke rimba, tentu naik gunung ngga bisa disamakan. Ke rimba, jalannya relatif datar tanpa tanjakan berarti, di dataran rendah artinya ngga dingin, bahkan ketika berjalan kaki empat hari ke Kejasung, aku ngga terlalu keteteran kecuali melewati titian kayu. Keseimbangan memang masalahku. Dan ke rimba, kurasa ngga bisa dibilang camping tapi ber-rumah di sana. Maka pengalaman kemarin, totally different dengan rimba!

Sebetulnya aku ngga terlalu ragu-ragu waktu Dodi mengajak ke Rinjani sepulang ia dari penelitian di desa Aik Berik. Di sana, baru diresmikan rute pendakian menuju Danau Segara Anak. Rute ini memang bukan untuk menuju puncak karena puncak Rinjani (3.726 mdpl) berada di sisi utara danau, sementara Plawangan Aik Berik di sisi selatannya. Waktu aku mengiyakan, itu juga karena gunungnya ada di Lombok. Jadi bisa sambil jalan-jalan ala turis di sana. Kemudian aku menemukan artikel yang mengatakan bahwa Aik Berik adalah jalur pendakian paling landai dengan pemandangan paing indah. Ini sungguh kabar baik buatku. Tidak perlu menempuh "tujuh bukit penyesalan" yang legendaris itu.


Selain itu, sudah hampir dua tahun belakangan ini aku rutin yoga dan kurasa cukup intensif. Yoga di rumah saja, dari televisi atau youtube, sekadar melatih otot-otot.  Juga renang sesekali. Dan sungguh, aku menyesal kenapa baru memulainya dua tahun terakhir ini. Aku baru merasakan efek berkeringat yang menyenangkan dari olahraga. Maka, kalau pendakian ini dilakukan lima tahun yang lalu, sekalipun aku lebih muda tetapi aku tidak yakin bisa melakukannya sebaik sekarang.

Saat akhirnya memutuskan untuk ke Rinjani, sekitar dua minggu lebih sebelum pendakian, aku mulai giat yoga dengan gerakan-gerakan yang mendukung kekuatan kaki, dengkul, dan sebagainya yang kurasa perlu. Aku punya unduhan youtube gerakan yoga untuk persiapan mendaki gunung, dan aku mengulang gerakan itu hampir setiap hari sampai sebelum berangkat. Selain itu juga sempat berenang dua kali. Persiapan lain juga cukup menyenangkan, belanja beberapa perlengkapan misalnya ;-)



Satu hal yang paling aku senangi dari perjalanan kemarin adalah kegembiraan yang menyertainya. Dari awal juga sudah berjanji ke diri sendiri untuk tidak mengeluh dan tidak cemberut di perjalanan. Meskipun ngos-ngosan di setiap tanjakan, hampir selalu nunduk konsentrasi melihat langkah, tapi syukurlah selalu ketawa. Juga karena tanpa sinyal hp dan televisi, jadi waktuku sepenuhnya dihabiskan dengan Dodi tanpa gangguan apapun. Apalagi kami memakai jasa porter yang tidak hanya membawakan ransel, tetapi juga masak dan mendirikan tenda. Maka aku dan Dodi kerjaannya cuma jalan, makan, ngobrol dan tidur, begitu terus setiap hari. Sungguh menyenangkan.



Dan hiburan sepanjang perjalan adalah suguhan pemandangan cantik: punggungan bukit, savana, awan, air terjun, kabut dan angin yang ributnya seperti sirkuit F1. Yang terakhir tentu tidak cantik, bahkan bikin aku mati gaya. Betul-betul tidak bosan dengan hanya duduk sambil memanjakan mata melihat semua itu. Apalagi saat kami sampai di Plawangan dengan pemandangan danau Segara Anak dan Gunung Barujari di tengahnya. Subhanallah.


Aku menemukan diriku yang berbeda di sana. Indit yang menikmati ngga mandi dan ngga keramas sampai berhari-hari. Asal tahu, aku keramas setiap hari. Tidak bisa tidak.

Kegembiraan gunung kami bawa sampai pulang. Ceritanya tidak berhenti dan bolak-balik buka hp atau laptop untuk lihat foto-foto. Dan kesimpulan yang pasti, aku mau lebih sering olahraga.


Rabu, 13 Januari 2016

Mengingat Bapak.




“Aku punya rumah, dibangun dengan cinta, diisi dengan cinta.
Bapak bikin rumah, rumah bagus biar kami senang, kami betah, dan selalu ingat untuk pulang.
Ada mimpi, ada cita-cita, ada pesan-pesan di rumahku. Bapak banget.”

Tulisan di atas aku buat sekitar seminggu setelah  meninggalnya Bapak, 17 tahun yang lalu, saat aku masih mahasiswa tahun ke-dua. Bapakku lulusan teknik arsitektur dan mengabdikan diri sebagai dosen. Karena itulah tidak banyak karya bangunan yang dibuatnya - dan rumahku, tentu menjadi yang paling istimewa.

Pada hari meninggalnya Bapak, aku mulai melihat rumah kami dengan cara yang berbeda. Rumah kami begitu terang hari itu. Cahaya masuk melalui jendela-jendela besarnya. Jenasah Bapak diletakkan di salah satu sudutnya, di atas amben kayu yang menjadi tempat kesukaan keluarga kami saat berkumpul dan menonton televisi.

Hari itu aku kehilangan Bapak. Tapi aku merasa rumah sedang memelukku. Hangat. Perasaan itu masih kusimpan melalui foto rumah dan tulisan tentang Bapak yang selalu kubawa ke manapun sebagai konsekuensi dari pekerjaanku 13 tahun terakhir ini hingga akhirnya aku pindah kota dan akhirnya ‘membangun’ rumah bersama suamiku di kota yang berbeda.

Perasaan hangat itulah yang ingin kuhadirkan di rumahku sekarang. Dan rasa ini hanya bisa dibangun dengan cinta penghuninya, tidak peduli bagaimanapun bentuk fisik rumahnya. Rumahku tidak akan seapik dan serapih rumah-rumah yang digambarkan di majalah dan internet. Tapi dengan cinta, rumah akan memeluk dan menyambut hangat. Akan selalu dirindukan dalam setiap perjalanan.



Minggu, 01 November 2015

jahitan sendiri

Kenapa aku ingin menjahit baju sendiri? Karena seringnya baju yang aku ingini tidak ada di toko. Kalaupun ada, biasanya yang harganya mahal. Maklum, selera tinggi tidak dibarengi income yang setara... hahaha...

Tapi itulah seninya. Mencari apa yang sesungguhnya aku, bukan sekadar memilih yang paling cocok yang disediakan oleh pasar. Dan batik, mungkin yang paling sering aku jahit. Aku sangat suka batik. Tapi jarang sekali menemukan baju batik yang pas dengan seleraku. Lagi-lagi, kalau ada, biasanya mahal. 

Nah, batik yang aku jahit ini punya tiga alasan yang bikin aku bahagia berlipat-lipat. Pertama, bahwa ini batik tulis halus. Kainnya pun halus sekali. Jarang sekali pegang yang seperti ini. Kedua, batik ini punya motif simetris karena sebetulnya ini dibuat dalam bentuk pola kemeja. Maka aku tinggal menyesuaikan polanya saja. Dan hal terakhir yang melengkapi kebahagiaan adalah aku tidak membeli kain ini... Salah satu keuntungan (sempat) tinggal di rumah nenek adalah banyak barang-barang yang ditinggalkan pemiliknya. Dan saat pindahan, barang-barang tak bertuan baru ketahuan. Sebagai penghuni terakhir, harta karunnya jatuh ke tanganku ; )


Debutan pertama di Singapore, awal September lalu saat kami (aku dan Butet) diundang mewakili Sokola mempresentasikan kerja kami di UniSIM dan SMU. I feel pretty in batik!


Sebelum menjahit atasan itu, sebetulnya aku juga menjahit rok lilit - wrap skirt dari kain batik klasik motif udan liris. Batiknya batik cap. Dan ya, setelah pegang batik tulis, maka batik cap seperti tidak ada apa-apanya... hehehe... Aku kasih nilai tujuh untuk jahitan ini. Agak kurang puas. Entah apanya.


Aku memang sedang suka dan punya ingin tahu yang besar dengan motif-motif batik klasik jogja. Merasa perlu untuk tahu budaya leluhur tempat asalku...


Jahitan terakhir, dua hari yang lalu. Akhirnya bikin kimono top setelah lama mempertimbangkan dan mencari pola yang paling oke menurutku. Pilihan jatuh pada kain linen berserat kasar yang dibeli awal tahun ini di Cipadu - yang aku hampir lupa.


Maafkan cermin kamar mandi yang kotor itu. Tapi melihat hasilnya rasanya cukup puas. Dari contekan terbaik yang aku dapat di pinterest, masih aku modifikasi lagi, disesuaikan ama ukuran badan dan selera. Aku tambahkan pinggiran di bagian depan, jadi bukan hanya dikelim. Biar mirip kimono beneran. 



Hasilnya? Aku suka sekali! Semacam mencoba gaya baru, tanpa merasa asing.

Selasa, 04 Agustus 2015

Menjahit Korden ala Penjahit Pemalas

Memasuki rumah baru. Yang pertama terpikir adalah jendela yang besar-besar, terutama di kamar tidur yang artinya wajib pakai korden. Wajib dan segera. Maka sebelum pindah, aku sudah mencari berbagai referensi tentang korden.

Untungnya sekarang rel dan perangkat korden tidak serumit jaman dulu. Kalau ingat rumah-rumah dulu, tipikalnya adalah dua lapis korden, masing-masing vitrase yang tipis dan tembus pandang dan baru tirai tebalnya. Belum lagi rel yang rumit, kordennya juga perlu dijahit khusus, dipasang besi bercabang tiga untuk pengaitnya, juga lipatannya yang mesti mati sehingga menghasilkan zig-zag yang rapi.

Tapi sekarang justru lebih sederhana. Dulu saja, jaman kuliah, aku membuat sendiri rel korden kamarku dengan memasang besi pengait (yang bentuknya seperti tanda tanya itu) di dua tepi kusen jendela, lalu dipasang kayu bulat yang dibeli di toko kayu sekalian minta mereka potong sesuai ukuran. Nah, sekarang juga banyak penjual rel korden yang model dasarnya semacam itu. Bentuknya macam-macam. Hanya saja, kebanyakan aku tidak suka dengan modelnya yang penuh ornamen. Pilihan warnanya juga keemasan dan keperakan.

Aku sungguh beruntung, IKEA baru saja membuka tokonya di Jakarta (eh, Serpong ding). Dan IKEA punya berbagai model rel korden yang simpel dan terjangkau. Aku juga segera browsing korden di website IKEA. Seperti biasanya, IKEA menawarkan range harga yang beragam. Harga termurahnya bisa dibilang terjangkau. Tapi korden itu masalah kain. Dan aku, di mana-mana selalu kalau megang kain, pasti yang harganya mahal. Seperti di toko IKEA, tanganku terlanjur memegang korden yang harganya satu juta kurang seribu rupiah. Kalau sudah begitu, korden yang seharga 200an ribu langsung bikin ilfil.

Korden yang kupegang berwarna abu-abu berbahan linen! I always fall in love with linen. Tapi harga segitu ngga masuk budget, dan ngga masuk akal buatku. Jadi mending mundur aja. Bye bye korden linen…

Akhirnya memutuskan untuk mencari bahan linen (well, linen look, campuran poly alias kw) yang murah. Di mana? Tentu cipadu tempatnya. Sukur-sukur nemu linen beneran sisa industri garmen dengan harga miring. Tapi jalan menuju Cipadu sungguh tidak bersahabat belakangan ini, sejak pembangunan jalan layang ke Ciledug. Maka aku putar halauan ke Mayestik karena macetnya pun sama tidak masuk akalnya dengan harga korden linen di IKEA.

Setelah keluar masuk toko, ternyata di toko langganan lah akhirnya mendapatkan kain linen-look dengan harga termurah. Meskipun sempet pengen linen beneran yang harganya tiga kali lipat, tapi aku tidak tergoda. Kalau cuma satu-dua meter sih oke. Untuk jendela kamarku, aku butuh lima meter lebih!

Tips dari aku, untuk menjahit korden pilihlah motif kotak-kotak untuk menghemat waktu. Pertama, ngga perlu bikin garis untuk paduan menggunting bahan. Selian itu, pas bikin lipatannya juga ngga kuatir bakal miring. Ngga butuh penggaris! Aku bahkan mengukur panjangnya dengan menghitung ubin di mana kain digelar, lalu mencari garis terdekat untuk lipatan atau potong bahan.

Kain linen-look aku pakai untuk jendela kamar yang berukuran cukup besar. Butuh dua lembar korden yang masing-masing tingginya 2,4 meter. Lebar kainnya aku pakai semua, jadi tidak perlu memotong lagi. Justru bagus kalau kelebihan. Saat ditutup, kordennya masih akan bergelombang, tidak rata.




Untuk lubang rel-nya, aku menjahitkan pita-pita di bagian atas belakang. Hasilnya sangat menyenangkan. Sampai sekarang aku masih terus memandangi korden itu dengan bangga. Puas rasanya melihat korden itu bergelombang sempurna. Beda tipis dari korden IKEA yang harga sejuta :D



Korden kedua yang kujahit adalah untuk ruang kerja Dodi. Lebar jendelanya hanya 90cm. Dodi setuju kordennya flanel kotak-kotak. Yes! Cuma semangat menjahit ini yang susah. Aku paling malas untuk mengulang membuat jahitan yang sama. Apalagi cuma lurus-lurus dan besar. Itu membosankan. Penyakit pemalas!

Untung kali ini motif kotak-kotaknya lebih jelas. Mengurangi tingkat kesulitan. Dan karena malas menjahit pita-pitanya, aku putuskan untuk memakai ring yang sudah ada penjepitnya dari IKEA. Jadi, aku juma perlu menjahit empat sisinya saja... Hehehe…



Kali ini ternyata kordennya kepanjangan sekitar 10cm karena aku lupa ukuran jendelanya. Saking malasnya, korden baru kupotong hari ini - setelah lebih dari sebulan terpasang, mumpung mesin jahit sedang terbuka setelah kemarin aku menjahit bantal untuk Fazil. Itupun aku terlalu malas untuk mengganti benangnya. Padahal yang dulu juga malas ganti benang coklas sehabis menjahit korden kamar.


Bandingkan tingkat kesulitannya dengan yang di bawah ini. Kainnya dua macam disambung-sambung. Lubang relnya juga dijahit dari kain yang sama.


Ini korden ukuran jendela rumah sebelum renovasi. Kupasang di sini karena sudah malas menjahit korden lagi, meskipun agak risi melihat bagian bawahnya yang menggantung. Tapi ya, sudahlah. Kapan-kapan lagi menjahit korden. Hahaha!

Minggu, 02 Agustus 2015

monster gigi satu: no rules!

Kalau asam lambung sudah naik dan berasa mual, leher kaku, dan mulai ngomel-ngomel sendiri… Itu tanda sudah saatnya menjahit lagi. Lebih dari sekedar hobi, menjahit bikin hepi. "Sewing is my meditation," kata Junthamas seorang teman dari Chiang Mai yang menjahit dan menyulam sendiri pakaian dan lain-lain dengan tangan. 

Mungkin betul. Hepi adalah salah satu efeknya. Yang pasti bisa meredakan ketegangan, memancing imajinasi, dan - mungkin konyol - tapi aku merasa cantik saat menjahit. Hehehe...

Awalnya mau jahit baju untuk diri sendiri. Tiba-tiba ingat kalau keponakan mau ulang tahun. Maka putar otak cari ide jahitan. Tadinya mau bikin bantal, karena selalu suka ekspresi Fazil saat memeluk guling dan boneka kesayangannya. Tapi di rumah cuma ada cushion ikea ukuran 50x50cm. Sepertinya terlalu besar untuk dipeluk bocah berusia satu tahun. 

Mulailah browsing di pinterest. Ini bisa panjang karena fokus terpecah-pecah. Sampai akhirnya menemukan bentuk monster ini dengan mengambil potongan-potonga ide dari banyak contoh. 

Proses paling menyenangkan berikutnya adalah mencari kain dan memadu-padankan. Aku selalu senang kalau bisa menemukan padanan yang cantik dari kain-kain yang kubeli bukan disengaja untuk menjadi padanannya. Rasanya seperti mak comblang! Hahaha… Dan proses ini bisa lama. Karena banyak kain yang dilihat - dari yang masih lipatan besar sampai yang perca, juga tiba-tiba muncul ide-ide jahitan lain. Dan semua kain yang dipakai untuk menjahit monster ini, bahannya bagus-bagus banget. Linen dan katun berkualitas. 


Menjahitnya sendiri cuma perlu tiga jam, sudah termasuk draft (tanpa pola), menjahit kancing dan menyulam untuk senyumnya, mengisi dakron, sampai merapikan benang-benang sisa. Dan yang seru, menjahit monster ini tanpa aturan! Ngga perlu pola, ngga perlu mengukur dan membuat garis lurus dengan penggaris, ngga perlu simetris, warnanya bebas...


Sengaja dibuat satu gigi karena yang aku ingat, Fazil giginya baru tumbuh satu di bawah depan. Meskipun info terbarunya sudah tiga :D


Dan bagian yang paling-paling menyenangkan - dalam arti betul-betul membuat hepi, adalah saat selesai. Ngga ada puasnya dipandangi, dielus-elus, difoto berbagai posisi, dicium-cium… Ini butuh waktu lebih lama dari proses menjahitnya. Jadi total waktu menjahitnya seharian...



Ini menjahitku yang pertama di rumah baru. Jadi masih banyak bahan dan peralatan tersimpan di dalam kardus yang terpisah. Dan ini hasilnya… 


Tapi ini juga berarti bahwa aku sudah mengklaim bahwa ruang ini menjadi ruang jahitku. Yeaayyy!!!


Selamat ulang tahun, dear Fazil! Tumbuhlah dengan sehat dan percaya diri. 

batik wrap pants

Ini kostum lebaran. Tiba-tiba keidean bikin wrap pants. Dulu celana model begini pernah ada di Malioboro. Dulu, jaman sepuluh tahun lalu. Beberapa waktu lalu, nemu tutorialnya di pinterest. Diliat-liat bentuknya jadi kayak kulot. Oke juga.



Bahannya batik Lasem, yang dipakai seragam waktu acara midodareni nikahan Bhas. Motifnya krecak, konon terinspirasi dari batu-batu pada saat pembangunan Jalan Raya Daendels. Menurutku, ini cantik!

: )