Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2015

Menjahit Korden ala Penjahit Pemalas

Memasuki rumah baru. Yang pertama terpikir adalah jendela yang besar-besar, terutama di kamar tidur yang artinya wajib pakai korden. Wajib dan segera. Maka sebelum pindah, aku sudah mencari berbagai referensi tentang korden.

Untungnya sekarang rel dan perangkat korden tidak serumit jaman dulu. Kalau ingat rumah-rumah dulu, tipikalnya adalah dua lapis korden, masing-masing vitrase yang tipis dan tembus pandang dan baru tirai tebalnya. Belum lagi rel yang rumit, kordennya juga perlu dijahit khusus, dipasang besi bercabang tiga untuk pengaitnya, juga lipatannya yang mesti mati sehingga menghasilkan zig-zag yang rapi.

Tapi sekarang justru lebih sederhana. Dulu saja, jaman kuliah, aku membuat sendiri rel korden kamarku dengan memasang besi pengait (yang bentuknya seperti tanda tanya itu) di dua tepi kusen jendela, lalu dipasang kayu bulat yang dibeli di toko kayu sekalian minta mereka potong sesuai ukuran. Nah, sekarang juga banyak penjual rel korden yang model dasarnya semacam itu. Bentuknya macam-macam. Hanya saja, kebanyakan aku tidak suka dengan modelnya yang penuh ornamen. Pilihan warnanya juga keemasan dan keperakan.

Aku sungguh beruntung, IKEA baru saja membuka tokonya di Jakarta (eh, Serpong ding). Dan IKEA punya berbagai model rel korden yang simpel dan terjangkau. Aku juga segera browsing korden di website IKEA. Seperti biasanya, IKEA menawarkan range harga yang beragam. Harga termurahnya bisa dibilang terjangkau. Tapi korden itu masalah kain. Dan aku, di mana-mana selalu kalau megang kain, pasti yang harganya mahal. Seperti di toko IKEA, tanganku terlanjur memegang korden yang harganya satu juta kurang seribu rupiah. Kalau sudah begitu, korden yang seharga 200an ribu langsung bikin ilfil.

Korden yang kupegang berwarna abu-abu berbahan linen! I always fall in love with linen. Tapi harga segitu ngga masuk budget, dan ngga masuk akal buatku. Jadi mending mundur aja. Bye bye korden linen…

Akhirnya memutuskan untuk mencari bahan linen (well, linen look, campuran poly alias kw) yang murah. Di mana? Tentu cipadu tempatnya. Sukur-sukur nemu linen beneran sisa industri garmen dengan harga miring. Tapi jalan menuju Cipadu sungguh tidak bersahabat belakangan ini, sejak pembangunan jalan layang ke Ciledug. Maka aku putar halauan ke Mayestik karena macetnya pun sama tidak masuk akalnya dengan harga korden linen di IKEA.

Setelah keluar masuk toko, ternyata di toko langganan lah akhirnya mendapatkan kain linen-look dengan harga termurah. Meskipun sempet pengen linen beneran yang harganya tiga kali lipat, tapi aku tidak tergoda. Kalau cuma satu-dua meter sih oke. Untuk jendela kamarku, aku butuh lima meter lebih!

Tips dari aku, untuk menjahit korden pilihlah motif kotak-kotak untuk menghemat waktu. Pertama, ngga perlu bikin garis untuk paduan menggunting bahan. Selian itu, pas bikin lipatannya juga ngga kuatir bakal miring. Ngga butuh penggaris! Aku bahkan mengukur panjangnya dengan menghitung ubin di mana kain digelar, lalu mencari garis terdekat untuk lipatan atau potong bahan.

Kain linen-look aku pakai untuk jendela kamar yang berukuran cukup besar. Butuh dua lembar korden yang masing-masing tingginya 2,4 meter. Lebar kainnya aku pakai semua, jadi tidak perlu memotong lagi. Justru bagus kalau kelebihan. Saat ditutup, kordennya masih akan bergelombang, tidak rata.




Untuk lubang rel-nya, aku menjahitkan pita-pita di bagian atas belakang. Hasilnya sangat menyenangkan. Sampai sekarang aku masih terus memandangi korden itu dengan bangga. Puas rasanya melihat korden itu bergelombang sempurna. Beda tipis dari korden IKEA yang harga sejuta :D



Korden kedua yang kujahit adalah untuk ruang kerja Dodi. Lebar jendelanya hanya 90cm. Dodi setuju kordennya flanel kotak-kotak. Yes! Cuma semangat menjahit ini yang susah. Aku paling malas untuk mengulang membuat jahitan yang sama. Apalagi cuma lurus-lurus dan besar. Itu membosankan. Penyakit pemalas!

Untung kali ini motif kotak-kotaknya lebih jelas. Mengurangi tingkat kesulitan. Dan karena malas menjahit pita-pitanya, aku putuskan untuk memakai ring yang sudah ada penjepitnya dari IKEA. Jadi, aku juma perlu menjahit empat sisinya saja... Hehehe…



Kali ini ternyata kordennya kepanjangan sekitar 10cm karena aku lupa ukuran jendelanya. Saking malasnya, korden baru kupotong hari ini - setelah lebih dari sebulan terpasang, mumpung mesin jahit sedang terbuka setelah kemarin aku menjahit bantal untuk Fazil. Itupun aku terlalu malas untuk mengganti benangnya. Padahal yang dulu juga malas ganti benang coklas sehabis menjahit korden kamar.


Bandingkan tingkat kesulitannya dengan yang di bawah ini. Kainnya dua macam disambung-sambung. Lubang relnya juga dijahit dari kain yang sama.


Ini korden ukuran jendela rumah sebelum renovasi. Kupasang di sini karena sudah malas menjahit korden lagi, meskipun agak risi melihat bagian bawahnya yang menggantung. Tapi ya, sudahlah. Kapan-kapan lagi menjahit korden. Hahaha!

Jumat, 10 Juli 2015

Rumah.

Sejak awal, rumah ini melampaui imajinasiku. Tapi sebetulnya ini masalah selera.

Kalau disuruh menyebutkan, rumah seperti apa yang aku inginkan aku akan jawab sebuah rumah tropis yang teduh, menyatu dengan alam, ramah lingkungan, dan mungkin istilah desainnya agak-agak rustik gitu. Tetapi syarat pertama dari Bhaskoro, adikku yang menyanggupi untuk mendesain dan mengerjakan segala sesuatunya sampai rumah ini siap huni adalah: aku tidak boleh protes dan banyak maunya. 

Oke. 

Masih sempet sih, usul ini-itu sedikit. Ada yang ditolak karena tidak sesuai dengan konsep desainnya, tapi ada juga yang pada akhirnya dipenuhi. Dan inilah hasil jadinya, sebuah rumah modern minimalis - kalau memang itu namanya. Bukan seperti yang aku bayangkan, tetapi membuat aku jatuh cinta. 

Karya lain adikku bisa lihat di http://griddesain.com
Mestinya aku tidak terlalu kaget, karena rumah ini kata orang masih senada dengan rumah Jogja hasil karya Bapak, atau rumah Mas Sinang yang didesain sendiri, dan tentu saja rumah Bhas yang dibangun bersamaan dengan rumahku. Tiga arsitek dalam satu keluarga, tentu akan dicari-cari kesamaannya : )


Tapi harus dicatat bahwa rumah semacam ini easy to maintain. Aku bisa melihat seluruh sudutnya, kering - tidak ada sudut lembab, dan banyak lubang untuk cahaya masuk sehingga tidak perlu lampu pada siang sampai sore. Bahkan malam hari, jumlah lampu yang menyala pun tidak perlu terlalu banyak karena satu lampu efektif menyinari seluruh ruang. LED pilihan yang tepat, bahkan rekening listriknya sama dengan waktu rumahnya masih 36 meter persegi. 

Satu hal yang kurasa kurang, bahwa Dodi sedang ada pekerjaan di luar kota sejak awal rumah ini selesai. Dia bahkan belum merasakan tinggal di sini. Tentu aku harus mengambil hikmahnya, bahwa rejeki datang di saat kami sudah habis-habisan untuk membiayai pembangunan rumah ini. Dan juga, tidak perlu ada pertengkaran karena berbeda selera dalam mengatur rumah. 


Aku membuktikan mitos, bahwa membangun rumah pasti pengeluarannya bakal jauh dari yang direncanakan. Ada momen itu menjelang 75% pembangunan selesai. Untungnya memang ada plan B: teras samping batal dibikin. Teras itu rencananya akan jadi tempat leyeh-leyeh sambil menikmati kopi sore atau tempat kerja Dodi yang juga area merokok. Maka pintu-pintu kaca yang rencananya menjadi penghubung ruang utama dengan teras pun diganti dengan tembok. Tapi ini yang kemudian membuat aku jatuh cinta. Selain lantai plester semen, pintu-pintu kaca digantikan dengan tembok hebel yang hanya dicat tanpa dilapis semen, dan juga rooster di sisi lainnya. FYI, punya rumah dengan aksen rooster itu sudah lama kuidam-idamkan makanya aku begitu bahagia mendapati dinding rooster ini. 


Dan kemarin, pesanan mebel datang. Salah satunya bangku panjang untuk menggantikan kursi makan di satu sisi meja. Bangku panjang ini juga kuidam-idamkan sejak lama.


Pesanan lain adalah meja kerja untuk Dodi. Dan ruangan kerja adalah satu hal yang khusus di-request Dodi untuk rumah kami. Rencananya dia akan menaruh banyak bukunya di sini, juga poster-poster peta dunia dan everest. Untuk ruangan ini, aku menjahitkan tirai kotak-kotak berbahan flanel. Selanjutnya, ruang ini menunggu pemiliknya pulang...

Meja kerja by Homey Furniture
Menjahit korden adalah pekerjaan selanjutnya. Rasanya puas pas ngeliat kordennya bisa berlekuk sempurna sewaktu dipasang. Sesederhana itu. Sesederhana keinginan untuk selalu pulang ke rumah.

Dipan by Homey Furniture
Masih perlu banyak sentuhan untuk menjadikannya betul-betul mencerminkan kami. Juga banyak ruang-ruang yang belum beres dikerjakan seperti dapur, ruang tivi, juga ruang jahitku.



Rumah selalu punya makna buatku. Rumah adalah tempat untuk pulang - dalam keadaan apapun. Untuk me-recharge energi dan pikiran. Home is where the heart is.

PS. Dapurnya belum ditampilkan karena masih darurat dan berantakan : )

Selasa, 11 September 2012

september sunday sewing

Akhirnya meluangkan waktu sehari untuk menjahit. Hari minggu lalu, hari yang panas. Karena Dodi sedang keluar kota, aku sangat leluasa menjahit... hehehe... Begitu bangun tidur, bikin teh panas, langsung keluarin kain-kain dan mesin jahit. Ngga mandi, ngga makan, cuma diselingin tiga potong pizzaa sepanjang sehari itu. It's so fun!

Ini adalah kado yang kujanjikan untuk baby Danesh. Kain-kainnya, idenya, sudah disiapkan jauh sebelum baby Danesh direncanakan... hehehe... Dulu kan pernah bikin baby blanket seperti ini yang warna pink, nah, versi birunya baru sekarang berhasil dijahit. Oh ya, pink blanket-nya sudah menjadi milik baby Maritza yang lahir awal Agustus lalu. 





Dan, minggu lalu aku punya kain baru. Beli di toko online. Warna coklatnya bagus, juga motif-motif daunnya bikin aku langsung jatuh cinta. Kepalaku langsung penuh ide ini-itu. Setelah tahu bahwa kainnya adalah jenis katun stretch, maka ide-ide dipersempit lagi. Ngga jadi deh bikin selimut untuk penutup sofa.

Akhirnya inilah yang kujahit: empat buah place mat untuk dipakai sendiri, juga korden untuk kamar. I love the curtains. Lovely. Membuat kamarku lebih cerah.




Minggu lalu juga, gara-gara Hani minta sarung untuk BB barunya, aku jadi mengeluarkan setumpuk pouch ini. Tinggal tersisa 8 buah dari 12 buah yang pernah kujahit. Sudah lama sekali. Mungkin hampir setahun lalu. Tadinya memang untuk dijual, tapi lupa upload dan akhirnya kubagi-bagi saja. Memberi selalu menyenangkan, ya kan? ; )


Dan, satu lagi ide yang sudah lama bertengger di kepala tapi baru bisa aku bikin adalah papan nomor rumah ini. Gara-garanya kepikiran ama talenan bertali tambang, tapi terus lupa dijual di toko apa. Baru ketemu lagi minggu lalu dan langsung kucorat-coret untuk jadi papan nomor rumah. Cute juga, tapi lain kali mungkin harus pakai cat minyak...

 

Dan satu hal lagi yang membuatku happy minggu lalu adalah dua buah buku ini. Tidak sengaja menemukannya dalam tumpukan buku diskon di Times perpus UI. Masing-masing dihargai Rp99.000 yang membuatku tidak berpikir panjang untuk membelinya.


Minggu yang sibuk, bukan? Dan minggu yang membuatku bangkrut! -- minggu ini empat kali ke Ace Hardware dan Informa. Lagi seneng-senengnya menghias rumah... lagi!

Have a great week, everyone!


Senin, 02 Juli 2012

sunday sewing after three busy days in Singapore

It is good to be home. Apalagi setelah tiga hari - empat kalau menghitung hari keberangkatan - bergerak ke sana-sini nyaris tidak berhenti. Entah kenapa, dua kali perjalanan ke Singapore-ku selalu diwarnai lari-lari :D Pertama, tahun 2009 waktu aku anter Dilla transit di Singapore, kami bolak-balik ke sana-sini, termasuk bolak-balik ke bandara, dan pulangnya masih harus ngejar copet.

Dan minggu lalu, biarpun cuma tiga hari tapi terasa lama karena kami mengalami banyak hal. Ke Singapore kali ini untuk urusan book tour untuk The Jungle School. Aku, Dilla, Kak Butet dan suaminya Kel, serta 400 eksemplar buku The Jungle School dan perlengkapan tempur kami lainnya. Dari 400 buku, 220 eksemplar kami kirim dengan kargo sisanya kami bawa di kabin. Total bawaan kami adalah dua koper besar, empat koper kecil, dua kardus, day pack masing-masing, serta tas laptop dan kamera. Skenario membawa buku ke kabin tidak berjalan, tapi ke-empat koper kecil lolos masuk bagasi tanpa biaya tambahan. Itu karena Tiger Airlines semena-mena menutup check-in desk satu jam sebelum keberangkatan, padahal tertulis di tiket 45 menit sebelumnya. Complain habis-habisan cuma bisa membawa dua dari tiga orang dalam tiket terbang ke Singapore, berikut seluruh bagasi kami tanpa ada timbang-timbangan lagi. Kel akhirnya menyusul pada penerbangan besokannya. Dan jadilah malam itu aku dan Kak Butet membawa empat koper buku menuju kompleks KBRI tempat kami menginap.

Tiga hari berikutnya di Singapore tak henti kami berlari. Itinerarynya sangat padat, sampai-sampai tak sempat istirahat. Dua event buku, beberapa pertemuan, mengurus pengambilan kargo, serta membawa buku ke distributor. Pada hari ke-dua aku sempat mencuri satu jam untuk masuk ke Spotlight, toko peralatan craft yang memang sudah aku browsing jauh sebelum aku ke Singapore. Masuk Spotlight dengan waktu hanya satua jam justru membuatku ingin menangis. Begitu banyak peralatan menjahit, peralatan rumah, kain-kain cantik, dan aku tidak punya cukup waktu untuk memutuskan apa yang harus aku beli! Aku keluar tanpa beli apa-apa. 

Besoknya lebih baik. Kami punya waktu bebas selama tiga jam sebelum menuju airport untuk terbang pulang. Aku kembali ke Spotlight dengan lebih fokus: no kain kecuali laminated fabric yang memang susah didapat di Jakarta. Kain cantik tidak ada habisnya, dan itu hanya persoalan motif. Apalagi belum ada kepikir project menjahit lagi yang butuh kain tertentu, kecuali kain laminated itu. Lainnya, aku beli peralatan jahit seperti jarum sulam, jarum pentul, juga tang untuk membuat mata ikan. Aku cukup puas, dan merasa belanja bijak. Hahaha... Akhirnya aku merasa bahwa slogan "do it yourself" pun bisa membuat kita belanja lebih banyak dari pada membuat sesuatu. Itu kenapa aku meletakkan kembali beberapa barang yang tadinya sudah aku pegang-pegang. Untunglah aku tidak menyesal :-)

Dan hari Minggu kemarin, aku menghabiskan waktu istirahatku dengan menjahit! Tiba-tiba saja terpikir membuat apron untukku sendiri, dan juga Dodi kalau dia mau pakai. Setelah membongkar kontainer harta karunku, akhirnya terpilih dua kain koleksi untuk dijahit jadi apron.





Sekalian juga menjahit semacam ini tapi difungsikan jadi tempat majalan atau koran di kamar mandi. Dodi banyak membaca, termasuk saat di kamar mandi. Sudah lama pengen membuat wadah untuk majalah atau koran di kamar mandi supaya tidak basah hanya saja susah mencari kain yang anti air, tapi cantik. Nah, begitu dapet kain laminated kemarin, langsung aku jahit ini: 



 Aku senang, pada akhirnya hari yang melelahkan ditutup dengan menjahit...





Minggu, 10 Juni 2012

weekend sewing: play with linen

Senangnya bisa menjahit weekend ini! Setelah hampir seminggu bekerja nyaris 24 jam, maka menjahit benar-benar membuatku bahagia. Setidaknya, menjahit membuat kepalaku sedikit lebih ringan karena satu-dua ide telah terealisasi dan aku tidak perlu menyimpannya lebih lama lagi di otakku.

Intinya, sungguh weekend ini aku bahagia! Untuk pekerjaan yang menyenangkan, program-program SOKOLA yang akan kembali berjalan, dan menjahit sebagai penutup minggu yang penuh. Apalagi yang bisa kuminta?

Awalnya jumat kemarin, sepulang dari rapat tiga hari tiga malam, Pak Satpam menyambut dengan dua paket kain yang kupesan online beberapa hari sebelumnya. Malam itu juga, otakku langsung menjahit. Serius. Sebelum benar-benar bisa menjahitnya, malamnya aku bermimpi memotong dan menjahit kain-kain itu... So, paginya aku ngga perlu lagi mikirin akan dijahit apa kainnya, karena mimpiku sudah menyelesaikan semuanya :-)

Ini jahitan pertama, remote caddy untuk sofa baru kami. Kainnya linen hijau dengan motif semacam bunga. Udah lama kukecengin, tapi baru minggu lalu belinya. Aku suka motif-motif seperti ini, bukan bunga-bunga yang realis. Dan linen, adalah hal lain yang bikin aku jatuh cinta pada kain ini. Ditambah lagi, tanpa direncanakan, warnanya matching, antara remote caddy, korden, sofa sama cat temboknya...


Ini linen yang lain. Campuran katun, jadi agak tebal dan bertekstur. Beli di Mayestik, udah agak lama. Waktu itu aku punya 2-3 jam kosong dan langsung kupakai untuk kabur ke Mayestik. Motifnya ngga terlalu favorit, tapi kainnya bener-bener aku suka. Perlu waktu lama untuk akhirnya beneran menjahitnya sebagai serbet. Serbet? Aku ngga tau lagi harus jahit jadi apa. Serbet mungkin terlalu sepele, tapi linen ini memang cocok untuk serbet. Dan lagi, aku belum nemu serbet yang bener-bener bagus di toko.


Hasilnya, dua serbet makan dan satu serbet dapur. Masih ada sisanya, mungkin akan kujahit jadi serbet juga. Tapi ya, aku ngga terlalu suka mengulang jahitan sampai beberapa kali. Liat nanti, deh!


Oya, placemat ini, udah pernah aku upload belum, ya? Dan, sebetulnya aku jahit taplak meja juga. Soalnya taplak kain flores motif ayam ini udah dekil dan belum ada penggantinya kalau dicuci. Kapan-kapan mungkin aku upload taplaknya!


Minggu, 20 Mei 2012

sedikit bersenang-senang : )

Setelah minggu-minggu yang berat, weekend ini aku memutuskan untuk sedikit bersenang-senang dengan mesin jahitku. Mesin jahitku sayang, ternyata sudah hampir empat bulan tidak disentuh. Empat bulan juga membuang jauh-jauh ide-ide yang berkeliaran di kepalaku. Jadi kemarin, aku panggil lagi ide-ide itu : )

Well, hasilnya adalah korden rumah. Aku memakai dua kain dengan warna dan tema senada. Ini bikin prosesnya lebih lama, but it is fun! Warna hijau-coklatnya masuk dengan warna cat tembok. Dan yang paling  aku suka, adalah motif burung-burung pada kedua kain ini. Kain pertama, burung-burung yang hinggap di pohon, dan kain yang satu lagi, burung-burungnya di susun berbentuk motif diamond. 

So, here they are: sepasang korden untuk jendela ruang utama rumah mungil kami. Mendampingi Levi Strauss dan beberapa pajangan dari Kamoro, Toraja, Batak, dan tempat-tempat lain.



Kepalang tanggung keluarin mesin jahit, aku akhirnya menjahit satu korden lagi untuk kamar di belakang. Aku memakai kain lurik gendongan yang aku beli di Jogja. Lebarnya pas, sehingga tidak perlu menjahit sisi kanan dan kirinya. Sisi bawah juga tidak perlu dijahit karena sudah ada rumbai-rumbai dari kainnya. Sayang ngga kefoto yah. Sayang juga fotonya kebalik seperti ini. Padahal pas upload udah bener, lho, tapi hasilnya kebalik gini. Diulang-ulang juga tetep aja.


Dan post it-post it kuning itu, reminder agendaku dua bulan ke depan. Sibuk? Sepertinya begitu. Ada banyak yang harus difollow up setelah terbitnya buku The Jungle School. Selain itu, kita juga jungkir balik cari dana dan memperbaiki manajemen SOKOLA. Kerja besar. Tapi aku bisa tersenyum ketika hasilnya pelan-pelan terlihat. Senyum yang sama dengan ketika aku menyelesaikan jahitan ini.

Salam!

Rabu, 01 Februari 2012

animal in the house

Kesibukan pindah rumah begitu menyita perhatian dan energi, sekaligus menyenangkan! Aku menikmati detik-detik kami menciptakan satu demi satu detail agar bangunan ini menjadi 'rumah' bagi kami. Dari awal, kami sudah memperkirakan akan ada pertengkaran tentang ini. Dengan kesadaran itu, setiap pertengkaran diakhiri dengan senyum lebar.

Detail demi detail kami bahas. Ada yang direncanakan tapi ngga jadi-jadi, ada yang terlintas langsung direalisasi. Seperti - apa namanya ini - taplak untuk lemari es. Kami mendiskusikan warna lemari es (pemberian dari pemilik rumah, teman kami) yang terlalu 'hijau' untuk ruang utama kami. Aku memberi solusi dengan membuatkan semacam taplak penutup lemari es.

Meja mesin jahit pun dibuka di meja makan, karena kami belum selesai menata rumah. Alat-alat jahit dibongkar dari packingannya. Sulaman diselesaikan seharian, berikut tambahan tulisan "Free Tibet!" yang terinspirasi dari artikel di Kompas hari itu. Kupikir lucu juga.



Aku memakai sisa kain seprei yang dibeli di Finland. Warnanya bagus dan tidak pasaran. Bagian belakangnya pakai kain belacu halus yang tebal. Tiga kantong di bawahnya bisa dipakai untuk menyimpan benda-benda kecil seperti nota, kunci, atau korek api.



Aku suka sulamannya. Hanya, sepertinya burungnya lebih bagus lagi kalau diblok warnanya. Nantilah, kalau kotak jahit dikeluarkan lagi. Burung itu tentu saja melengkapi deretan binatang-binatang yang aku 'pelihara' di rumah ini.


Taplak ini adalah kesukaanku. Tenun ikat Flores dengan motif ayam. Cantik sekali! Aku menjadikannya taplak untuk meja makan kami. Dan cangkir motif binatang itu, aku sudah menyimpannya cukup lama. Tapi baru di rumah baru cangkir ini mulai digunakan.


Anjing-anjing ini adalah lap piring. Bahannya katun bagus. Aku ambil dari rumah kos Dilla di Finland waktu ke sana dulu! Sebelumnya, kain ini kupakai jadi penutup printer. Tapi kupikir, lebih bagus dikembalikan pada fungsi awalnya, lap piring karena di sini susah menemukan lap piring dengan kualitas katun yang bagus, menyerap air dan mudah kering.


Ini lukisan yak di atas kulit (mungkin juga kulit yak). Adalah suvenir yang aku dapatkan waktu konfrensi di Cina tahun 2010 lalu. Beberapa suvenir yang aku dapetin di sana, aku bagikan sebagai oleh-oleh. Tapi tidak lukisan yak ini. Mugnkin karena gambar yak-nya, mungkin juga karena materialnya kulit. I don't know. I just like it.

Dan kaleng gambar kura-kura ini, aku dapet di toko serba enam ribu. Hehehe... Harga pas, hati puas! : )

Entah sejak kapan aku suka figur binatang. Dulu, jaman kuliah, aku koleksi anting perak berbentuk binatang mulai dari fliper, gajah, laler, tikus, cicak, sapi... dan semuanya aku beri nama... Dan untuk rumah baru sekarang, mungkin akan ada lagi deretan binatang berikutnya. Tunggu saja ; )