Tampilkan postingan dengan label intimate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intimate. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

intimate #21 "Carpe Diem"

Lebaran adalah waktunya bersama keluarga, makan, berkabar, dan bergembira. Sayangnya memang, lebaran ini ngga bisa pulang ke Jogja. Waktunya terlalu sedikit karena kami masih harus mempersiapkan kegiatan Ekspedisi Literasi Papua dan ulang tahun SOKOLA yang semakin dekat. Dengan harga tiket yang sangat mahal, terlalu sayang kalau cuma sebentar di Jogja. Maka lebaran ini kami di Bandung, di keluarga Dodi. Lalu buru-buru ke Jakarta dan kumpul bersama keluarga besarku. 

Selalu ada hal yang menjadi alasan kami untuk berkumpul - meskipun sejak aku pindah ke Sawangan, intensitasku berkurang. Kali ini kami merayakan lebaran sekaligus perpisahan dengan Tanya, sepupuku yang akan segera terbang ke Swedia untuk melanjutkan sekolahnya di sana. Banyak doa untuknya. 

Aku jadi mengingat pengalamanku sepuluh tahun yang lalu. Di usia yang sama dengan Tanya sekarang, untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumah untuk ke Jambi, ke tempat yang sama sekali tidak kukenal dan tak ada seorangpun yang kukenal di sana. Saat itu, keluarga-keluarga di Jogja datang untuk mengantarku pergi. Sebelumnya ada farewell kecil-kecilan di Jazz Coffee dengan teman-teman terdekat. Menu istimewa disiapkan oleh Mba Anik, pemilik Jazz Coffee: kopi duren. Aku juga membawa puding caramel dari rumah. 

Pesan-pesan perpisahan, pelukan selamat tinggal dan doa dari orang-orang terbaik adalah bekalku merantau. Masih kusimpan jurnalku waktu itu, yang ditulisi catatan perpisahan dari semua teman. 

Aku ngga pernah tahu, akan berapa lama pergi. Tapi aku masih ingat, saat itu aku percaya bahwa Jambi adalah langkah pertamaku melihat dunia. Ini tertulis di jurnalku saat itu. Dan pada akhirnya memang, pengalaman Jambi membawaku untuk mendatangi tempat-tempat lain di Indonesia bahkan keluar negeri. 

Maka kupikir, momen ini juga akan menjadi titik penting buat Tanya yang juga selama 25 tahun tidak pernah meninggalkan Jakarta, rumah, untuk waktu yang lama. Akan jadi momen yang menentukan masa depannya. Aku yakin, pasti ia akan pulang dengan cara pandang baru dan kedewasaan. I can't wait to welcome the new her next year. 

Dan untuknya, kusiapkan sebuah kado kecil. Tak ada hal lain yang bisa kupikirkan sebagai hadiah selain sarung bantal. Hanya saja, ternyata aku tidak sempat untuk pulang ke rumah mengambil sarung bantal yang sudah kujahit serta benang dan peralatan sulamku. Dari Bandung kami langsung menuju ke Kebon Jeruk, tempat keluarga besar berkumpul.

Maka sisa waktu sehari setelah lebaran, aku memanfaatkan waktu keliling Bandung untuk mencari yang kubutuhkan. Sarung bantal kudapat di sebuah factory outlet, bahannya 100% katun dan sepertinya impor. Benangnya agak susah dicari. Toko-toko jahit tutup semua. Di BSM yang hanya sekitar 1 km dari rumah, ngga ada juga. Baru paginya, sebelum berangkat ke Jakarta, justru benang sulam ditemukan di warung kelontong dekat rumah. Dengan warna-warna yang cantik.

Maka inilah sarung bantal yang disulam dalam beberapa jam, dengan banyak keterbatasan:


Kata "Carpe Diem" pertama kali aku kenal dalam kuliah Sosiologi Postmodern. Diartikan dalam bahasa Inggris sebagai "seize the day" dan menjadi terkenal dalam film "Deat Poet Society". Belakangan, baru kutemukan definisi yang lebih akurat menurut wikipedia adalah "enjoy the day" atau "pluck the day" yang merunut bahasa aslinya (Greek) dianalogikan dengan panen, atau memetik buah-buahan yang masak. 

Dan memang satu hal yang ingin kupesankan ke Tanya, agar ia menikmati saja semua pengalaman di sana. Perjalanan ini sendiri (sampai sepuluh bulan ke depan) adalah proses belajarnya yang tidak tergantikan. 



Good luck our dear Tanya! We are gonna miss you...
***
Juga doa buat Mba Oke, agar diberikan kekuatan dan kesembuhan.

amin.

Selamat Lebaran semua! Maaf lahir dan batin!


Rabu, 11 April 2012

intimate #19 welcome to the jungle!


Aku lupa kapan tepatnya membuat ini, barangkali sudah lebih dari enam bulan lalu. Tersimpan manis di kotak kainnku dan baru semalam aku melihatnya lagi. Tepatnya waktu aku membongkar kotak kainku karena kangen.

Kangen saja. Pada kain-kain, pada suara mesin jahit, pada benang warna-warni. Sekonyong-konyong ide-ide jahitan berkelebat di kepalaku. Sambil menyeringai seperti setan. Terus-terang, itu membuatku tersiksa. Membayangkan banyak ide jahitan tanpa aku bisa merealisasikannya, sungguh membuat tersiksa.

Tapi kondisinya memang sedang tidak memungkinkan. SOKOLA sedang bergerak cepat sekali. Banyak yang urgent untuk segera difollow up. Itu juga kenapa, blog ini sempat lama terabaikan.

Tapi tadi malam aku berhenti. Pilek membuatku berhenti sejenak. Dodi penelitian ke luar kota dan aku tiba di rumah pukul 11 malam, minum actifed, lalu tiba-tiba aku punya waktu untuk menjenguk kain-kainku. Dibongkar saja, tanpa diapa-apain. Cukup menghibur.

Lalu aku menemukan sepasang sarung bantal jungle ini. Aku pakai saja satu, sebagai obat rinduku pada rimba dan keceriannya. Satu lagi masih tersimpan. Mungkin nanti ada alasan untuk akhirnya memakainya, atau memberikannya pada seseorang. Nanti. Sekarang aku memikirkan yang lain dulu...

Senin, 09 Januari 2012

intimate #18 Rock 'n Roll Pillow

Ini jahitan lama yang baru diselesaikan kemarin. Sarung bantal lagi. Dan inilah intimate #18: Rock 'n Roll Pillow. Entah kenapa, dua foto pertama jadi terbalik setelah di-upload. Di-upload ulang pun hasilnya tetap terbalik seperti ini... yah, sudahlah...



Rock 'n Roll Pillow
IDR 70.000/eac
or IDR 135.000 for two.

Kamis, 15 Desember 2011

copenhagen houses

Inilah intimate #17 Copenhagen houses. Sebetulnya tidak terlalu istimewa karena sarung bantal kali ini tanpa sulaman. Itu karena kainnya sudah cantik sekali: motif rumah-rumah yang menjadi ciri khas Copenhagen.


Bandingkan dengan rumah-rumah di Copenhagen dalam foto ini.

foto diambil dari sini

Selain gambar rumah-rumah khas Copenhagen, di bagian bawah juga ada motif snow flakes. Snow flakes ini bisa ditemui di tempat-tempat yang musim dinginnya kering (tidak lembab). Aku menemukannya di Finland. Dan aslinya, snow flakes ini cantik sekali. Masing-masing punya motif berbeda.

Sarung bantal ini sebetulnya hasil ngembat dari kamar kos Dilla di Finland dalam petualangan 30 jam di sana. Hanya saja, ukuran bantal di sana berbeda dengan umumnya bantal di sini. Terlalu lebar, dan panjangnya juga lebih sempit. Karena itu sarung bantal ini lama tidak aku pakai. Tapi minggu lalu, baru aku sadar kalau sarung bantal ini menyisakan sekitar 30 cm untuk bagian lipatan dalamnya. Artinya, kalau jahitannya dibongkar, akan cukup untuk membuat sarung bantal yang sesuai dengan ukuran standar panjang bantal di sini, 70 cm, dan masih ada sisa sekitar 10 cm untuk lipatannya. Lalu, tunggu apa lagi?

Bagian lebarnya, lebih lebar dari sarung bantal di sini, tetapi sayang sekali kalau motif snow flake-nya harus dipotong. Maka aku biarkan saja sarung bantal ini terlalu lebar. Tidak terlalu mengganggu. Malah, lebih lengkap sarung bantal ini mengantarkan mimpiku untuk bisa mengunjungi negara-negara Scandinavia lagi - untuk hunting kain dan Marimekko... Hehehe...

Satu lagi foto deretan rumah warna-warni. Ini hasil perjalanan ke Makassar kemarin. Sepintas mungkin bisa dibandingkan dengan deretan rumah-rumah Copenhagen. Tapi situasinya sungguh berbeda.


Ini pemandangan dari tepi Jalan Metro Tanjung Bunga di Makassar, tepatnya di seberang Celebes Convention Centre. Rumah sekolah kami, berada paling kiri. Perkampungan yang masuk dalam wilayah kecamatan Mariso yang merupakan kecamatan terpadat di Makassar ini dulunya berada di pesisir. Proyek reklamasi yang dimulai sejak tahun 1997 telah menimbun kawasan pesisir Mariso, disusul dengan pembangunan fisik lainnya seperti jalan, hotel, mall, wahana permainan berbayar, dan lain-lain. Reklamasi pula menutup akses saluran irigasi kota, menyebabkan sampah menumpuk di sekitar permukiman.

Sokola mulai berkegiatan di sana sejak akhir tahun 2004, berawal dari program literasi, beasiswa sekolah, PAUD, kelas lifeskill, dan lain-lain. Hingga kini, tak kurang dari 1.000 anak dan remaja telah berpartisipasi di sana. Dan setiap tahun, setidaknya ada 100 anak dan remaja yang berkegiatan di tempat kami.

Awal bulan ini, aku ke sana dengan Dilla dan mendapatkan kabar buruk: pemilik tanah tempat rumah sekolah kami berdiri, meminta kami pindah pada bulan Mei 2012 nanti. Mungkin kami harus maklum, harga tanah di sana terus meningkat dan siapa tidak tergiur. Tapi persoalan pindah bukan perkara mudah. Pertama, tidak mudah untuk menemukan lokasi yang cukup luas di kampung padat itu yang bisa menampung kegiatan kami. Kedua, kami tidak punya cukup uang untuk membeli atau mengontrak tanah lain karena sebetulnya bangunan rumah ini merupakan milik kami (bukan milik si tuan tanah) yang bisa dibongkar pasang (knock down). Ketiga, bingung juga mau diapakan rumah ini? Ditinggalkan untuk menjadi milik si tuan tanah rasanya kok tidak mungkin. Keenakan dia, dapat bangunan yang terdiri dari kayu-kayu bagus yang kalau dijual tentu nilainya lebih tinggi dari sekadar uang kontrak tanah selama lima tahun. Mau dijual? Adakah yang berminat?

PR ini cukup menguras pikiran. Sepertinya 2012 akan menjadi tahun yang menuntut kerja keras. Semoga bisa terlewati dengan baik. Dan anak-anak, di manapun Sokola berada, tetap bisa berkegiatan.

S.O.S. - Support Our School!

Sabtu, 28 Mei 2011

intimate #15 little ballerina

Sarung bantal lagi. Aku senang sekali saat menjahit dan menyulam sarung bantal lagi, di antara pesanan sepatu-sepatu bayi.

Sarung bantal berwarna baby pink dengan sulaman warna-warna senada sesuai dengan permintaan si ballerina cilik yang memesannya.

Feel so sorry karena membuatnya menunggu begitu lama untuk sarung bantal ini. Hope you like it, dear Rafaela. Jangan lelah untuk terus bermimpi, ya...

Good nite every one! Have a nice weekend.
And the owly baby blanket will be stitched soon ^_^

Sabtu, 06 Februari 2010

semakin kuat... semakin sehat...

Diam-diam aku mengikuti rutinitas beberapa orang melalui facebook. Tidak semua. Hanya beberapa orang terdekat, dan mereka yang aku ingin dekat. Dan itu sebabnya aku menjahitkan sarung bantal ini.

intimate #7 cancer survivor.
Sarung bantal ini dijahit ketika seorang kakak sepupu terbaik sedang menjalani proses penyembuhan cancer. Kalau aku membayangkan, mungkin prosesnya lebih terasa melelahkan dibanding sakitnya sendiri. Maka sugesti baik diperlukan untuk menjaga pikiran agar tetap positif. Demikian juga istirahat cukup untuk menjaga kondisi badan. So here it is, kujahitkan teman untuk itu...

Tulisan di sarung bantal itu dimodifikasi dari status facebooknya minggu kemarin. Desainnya sendiri sempat berganti-ganti. Termasuk warna benangnya sampai akhirnya menemukan warna kuning yang cantik.

I love u mba'... Cepet sembuh ya...

Senin, 17 Agustus 2009

intimate#4 fur Dilla

Sarung bantal ini dijahit khusus untuk Dilla yang akan pergi ke Finland untuk kuliah. Dilla berangkat akhir bulan ini, meninggalkan suaminya untuk sementara di Jakarta menuju negeri dingin di sana. Masalahnya adalah, sama sepertiku, Dilla punya penyakit bersin-bersin kalau dingin, lalu sinus... Sarung bantal ini doa dan sugesti untuknya agar tetap hangat dan cepat beradaptasi dengan udara dingin di sana...

100% jahit dan sulam tangan dengan benang DMC pada kain katun. Aku suka motif kotak-kotaknya meskipun kainnya agak tipis. warna ungu untuk tanktop-nya aku pake benang rayon DMC yang efeknya menkilap. Agak licin pas jahitnya.

Dibikinnya tiga hari, tapi ngga kontinyu. Pertama, karena aku mulai jahit malem-malem, aku ketiduran. Besoknya, aku nggak punya benang hitam untuk selesaiin mata dan rambutnya. Baru lusanya selesai.
Nggak mirip, kecuali tahi lalat di pipi kirinya. Itu Dilla yang punya :) Terakhir, aku nemu kotak mika bekas kain flanel. Pas banget ukurannya untuk mengemas sarung bantal ini.

Ini Dilla, fotonya di-grab dari fb Oceu. Mirip ngga?
Tahi lalatnya nggak kelihatan sih..
Well, good luck sist! We'll miss u...

Selasa, 04 Agustus 2009

intimate.

Intimate adalah teman sehati. Teman berbagi lelah sehari. Teman bersandar dan berbagi pelukan. Teman bermimpi yang mengucapkan selamat pagi.

An intimate to pillowcase your dreams.