Jumat, 10 Juli 2015

Rumah.

Sejak awal, rumah ini melampaui imajinasiku. Tapi sebetulnya ini masalah selera.

Kalau disuruh menyebutkan, rumah seperti apa yang aku inginkan aku akan jawab sebuah rumah tropis yang teduh, menyatu dengan alam, ramah lingkungan, dan mungkin istilah desainnya agak-agak rustik gitu. Tetapi syarat pertama dari Bhaskoro, adikku yang menyanggupi untuk mendesain dan mengerjakan segala sesuatunya sampai rumah ini siap huni adalah: aku tidak boleh protes dan banyak maunya. 

Oke. 

Masih sempet sih, usul ini-itu sedikit. Ada yang ditolak karena tidak sesuai dengan konsep desainnya, tapi ada juga yang pada akhirnya dipenuhi. Dan inilah hasil jadinya, sebuah rumah modern minimalis - kalau memang itu namanya. Bukan seperti yang aku bayangkan, tetapi membuat aku jatuh cinta. 

Karya lain adikku bisa lihat di http://griddesain.com
Mestinya aku tidak terlalu kaget, karena rumah ini kata orang masih senada dengan rumah Jogja hasil karya Bapak, atau rumah Mas Sinang yang didesain sendiri, dan tentu saja rumah Bhas yang dibangun bersamaan dengan rumahku. Tiga arsitek dalam satu keluarga, tentu akan dicari-cari kesamaannya : )


Tapi harus dicatat bahwa rumah semacam ini easy to maintain. Aku bisa melihat seluruh sudutnya, kering - tidak ada sudut lembab, dan banyak lubang untuk cahaya masuk sehingga tidak perlu lampu pada siang sampai sore. Bahkan malam hari, jumlah lampu yang menyala pun tidak perlu terlalu banyak karena satu lampu efektif menyinari seluruh ruang. LED pilihan yang tepat, bahkan rekening listriknya sama dengan waktu rumahnya masih 36 meter persegi. 

Satu hal yang kurasa kurang, bahwa Dodi sedang ada pekerjaan di luar kota sejak awal rumah ini selesai. Dia bahkan belum merasakan tinggal di sini. Tentu aku harus mengambil hikmahnya, bahwa rejeki datang di saat kami sudah habis-habisan untuk membiayai pembangunan rumah ini. Dan juga, tidak perlu ada pertengkaran karena berbeda selera dalam mengatur rumah. 


Aku membuktikan mitos, bahwa membangun rumah pasti pengeluarannya bakal jauh dari yang direncanakan. Ada momen itu menjelang 75% pembangunan selesai. Untungnya memang ada plan B: teras samping batal dibikin. Teras itu rencananya akan jadi tempat leyeh-leyeh sambil menikmati kopi sore atau tempat kerja Dodi yang juga area merokok. Maka pintu-pintu kaca yang rencananya menjadi penghubung ruang utama dengan teras pun diganti dengan tembok. Tapi ini yang kemudian membuat aku jatuh cinta. Selain lantai plester semen, pintu-pintu kaca digantikan dengan tembok hebel yang hanya dicat tanpa dilapis semen, dan juga rooster di sisi lainnya. FYI, punya rumah dengan aksen rooster itu sudah lama kuidam-idamkan makanya aku begitu bahagia mendapati dinding rooster ini. 


Dan kemarin, pesanan mebel datang. Salah satunya bangku panjang untuk menggantikan kursi makan di satu sisi meja. Bangku panjang ini juga kuidam-idamkan sejak lama.


Pesanan lain adalah meja kerja untuk Dodi. Dan ruangan kerja adalah satu hal yang khusus di-request Dodi untuk rumah kami. Rencananya dia akan menaruh banyak bukunya di sini, juga poster-poster peta dunia dan everest. Untuk ruangan ini, aku menjahitkan tirai kotak-kotak berbahan flanel. Selanjutnya, ruang ini menunggu pemiliknya pulang...

Meja kerja by Homey Furniture
Menjahit korden adalah pekerjaan selanjutnya. Rasanya puas pas ngeliat kordennya bisa berlekuk sempurna sewaktu dipasang. Sesederhana itu. Sesederhana keinginan untuk selalu pulang ke rumah.

Dipan by Homey Furniture
Masih perlu banyak sentuhan untuk menjadikannya betul-betul mencerminkan kami. Juga banyak ruang-ruang yang belum beres dikerjakan seperti dapur, ruang tivi, juga ruang jahitku.



Rumah selalu punya makna buatku. Rumah adalah tempat untuk pulang - dalam keadaan apapun. Untuk me-recharge energi dan pikiran. Home is where the heart is.

PS. Dapurnya belum ditampilkan karena masih darurat dan berantakan : )

Sabtu, 24 Januari 2015

Sido Asih


Hadiah ulang tahun terbaik dari Mama. Sepasang kain jarik motif Sido Asih latar putih diberikan beberapa hari menjelang ulang tahunku yang ke-37, 21 Januari lalu.

Sido dalam bahasa Jawa berarti jadi. Sedangkah asih berarti kasih, eman: perasaan sayang dan menjaga karenanya. Kain ini biasa dipakai oleh pengantin dengan doa-doa kelanggengan menyertainya.

Tak hanya karena ini batik tulis dengan latar putih khas batik Jogja, tempat asalku. Tetapi juga bahwa Mama memberikan sepasang Sido Asih tentu disertain doa-doa dan kasih sayang kepada kami.


Rabu, 01 Oktober 2014

becoming Teacher

Aku memang terpikir untuk menjadi guru. Sejak lama. Yang kuingat, di umur empat tahun - ketika itu aku sudah bisa membaca dan menulis, aku suka menjadi guru dalam permainan sekolah-sekolahan bersama tetangga-tetangga sebaya. Membacakan mereka serial Tini atau dongeng dari majalan Bobo. Dan kalau kuingat, cita-cita pertamaku adalah ingin menjadi guru. Setelah itu baru astronot, dokter, wartawan dan lain-lain selayaknya anak-anak...

Saat awal kuliah, aku kembali menulis 'guru' di kolom cita-cita saat mengisi buku angkatan reuni SD. Entah kenapa. Terpikir begitu saja, lalu terlupakan.

Selama kuliah juga, aku berkenalan dengan banyak orang, banyak komunitas dan kegiatan. Belajar hal-hal baru. Pemikiran baru. Sempat punya mimpi untuk membuat semacam TK atau taman bacaan di mana aku bisa membacakan dongeng.

Lalu pada sebuah kuliah sosiologi postmodernisme, dosen menyuruh kami menjawab tiga pertanyaan dalam sehelai kertas. Kalau tidak salah, apa yang paling diinginkan dalam hidup, profesi yang dicita-citakan dan bagaimana sosiologi bisa membantu. Untuk pertanyaan cita-cita, aku menuliskan guru. Masih dengan entah kenapa.

Tapi kata-kata seperti mantra, ia bekerja di luar kesadaran kita. Aku tidak merasa pernah sangat mengejar dan keras kepala untuk menjadi guru seperti ketika aku ingin menjadi wartawan dan merintis jalan itu hingga benar-benar menjadi wartawan. Tiba-tiba saja aku tersadar, aku sudah menjadi guru.





Bukan hanya satu, tapi SOKOLA sudah meninggalkan jejak di 14 tempat, 14 komunitas dengan karakter dan persoalan yang berbeda. Bukan hanya 10, 20, 100 atau 200. Kami punya lebih dari 10.000 penerima manfaat. Melebihi apa yang pernah kuimpikan.

SOKOLA telah melewati 11 tahun. Pada rapat di malam 30 September 2003 yang kami sepakati sebagai hari berdirinya SOKOLA, aku sama sekali tidak membayangkan kami akan sampai di titik ini. Penuh syukur. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kami, memberikan kesehatan dan keselamatan kepada guru-guru kami; menjaga semangat dan cinta kami dalam bekerja.

Selamat ulang tahun SOKOLA. Besarlah dalam kesederhanaan.
30 September 2003 - 30 September 2014 

Senin, 04 Agustus 2014

The Award

Ini tentang Butet, yang pertama kali kukenal sekitar 11 tahun lalu saat aku pertama kali menginjakkan kaki ke Jambi. Setelah itu kami berbagi kamar. Setelah itu, kami banyak berdiskusi juga dengan Dodi, Oceu dan Willy. Setelah itu kami mendirikan SOKOLA, tepatnya pada 30 September 2003. Setelah itu, kami selalu bertemu.


30 Juli kemarin, pada malam setelah film Sokola Rimba ditayangkan di televisi untuk pertama kalinya, kami menerima kabar luar biasa: Butet Manurung terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Ramon Magsaysay 2014. Ini bukan saja kabar baik untuk Butet pribadi, tetapi juga kami semua di SOKOLA.

Kenapa Butet? Kenapa bukan kami yang juga mendirikan SOKOLA? Atau bahkan guru-guru lain yang pernah mengajar Orang Rimba di Hutan Bukit Duabelas? Ada juga yang bertanya seperti itu. Well, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin. Tapi yang pasti, mereka tidak mengenal Butet dan bagaimana ia bekerja: mengoperasikan segenap intuisi untuk memahami komunitas, untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhannya menghadapi perubahan, dan untuk bertahan hidup di hutan. Dan paling penting adalah keberpihakan. 

Tidak banyak orang yang mampu menghabiskan bertahun-tahun waktunya dengan tinggal di hutan, bahkan ada masanya ia ke rimba dengan biaya sendiri dan harus survival di rimba. Bukan karena tuntutan pekerjaan, atau gaji di akhir bulan. Dan aku masih ingat bagaimana matanya selalu berbinar-binar dalam setiap pertemuan dengan anak-anak di rimba. Lebih dari itu, 14 tahun membuktikan konsistensinya, bahkan tidak hanya di rimba. Melalui SOKOLA kami menjangkau komunitas buta huruf lainnya di Indonesia. 

Aku mengenalnya sebagai orang yang berkemauan keras dan tidak punya kata lelah dalam kamusnya. Dengan energi yang sangat besar, Butet yang kukenal tidak akan berhenti berusaha hingga tetes keringat terakhir. Sering sepak terjangnya membuatku terengah-engah mengikuti. Tapi ya biarin aja, karakter itulah yang membentuk organisasi kami. Karakter itulah yang mengantarnya mendapat penghargaan. You deserve it!

Tak kalah menggembirakan adalah kabar kehamilannya yang sekarang menginjak usia tujuh bulan. Dan kemarin, Butet terbang ke Canberra untuk selanjutnya melahirkan di sana. Dan tidak ada yang lebih baik yang bisa kulakukan selain menjahitkan sesuatu untuk menyambut bayi yang akan lahir dari rahim ibu yang keren. 

'

Tema ini muncul dengan tidak sengaja. Kain-kainnya dibeli di waktu yang berbeda dan tiba-tiba saja cocok untuk jahitan ini.



Temanya hutan. Hijau. Dan kebetulan aku memang suka mengumpulkan kain bermotif binatang dan pohon atau daun.


Fire-truck dijahitkan untuk mengingatkan ayahnya yang seorang pemadam kebakaran.



Selamat jalan sista, semoga sehat dan lancar persalinannya. Semoga kita ketemu di Manila akhir bulan ini. Very proud of you!

best things in life

Sudah lama menunda untuk menulis dengan judul ini. Tidak ingin mendramatisir, tapi harus diakui perasaanku kadang-kadang (catat, ya: kadang-kadang saja) masih 'drama'. Ada momen-momen yang membuat aku teringat, dan sedih. Tapi pada akhirnya, aku bersyukur bahwa I've never been that worst. Duniaku terlalu indah. Terima kasih, Tuhan.

Salah satu momen terbaik yang pernah aku punya adalah menyadari bahwa aku hamil bersamaan dengan beberapa sahabat terdekat. Kegembiraannya berlipat-lipat. Maka, yang terburuk adalah ketika aku harus kehilangan hal terbaik itu.

Aku tidak ingin bercerita momen-momen kecil yang membuat aku kembali sedih, atau prosesku untuk memaknai kejadian ini. Tetapi satu hal yang ingin aku ingat bahwa di saat terburukku, aku masih dikelilingi hal-hal terbaik. Hari itu, entah kenapa banyak kabar dari rimba yang membuatku senyum-senyum sendiri. Ada semangat yang terkirim dari sana, menjadi energi buatku, menjadi pengingat betapa aku punya hal-hal baik yang membuatku tetap bersyukur.

Hal-hal baik tidak melulu sesuatu yang besar. Kadang-kadang sederhana saja. Sesederhana nastar bikinan mama, keponakan yang menyambut riang, menyelesaikan season terakhir How I Met Your Mother, menghabiskan waktu bersama adik, atau memeluk suamiku dari boncengan belakang motor sambil jalan-jalan keliling Jogja. Mudik.

Dan ini adalah oleh-oleh lebaranku kemarin. Buku+pola, kain, juga jahitan untuk Beia.






Selamat Lebaran semua. Mohon maaf lahir dan batin.